Gang Besar

1000 Tahun
ilustrasi disway.(net)
0 Komentar

Berarti sejak zaman kuno Palembang sudah terkenal sebagai pelabuhan yang sangat terkenal.

Karena itu penelitian tentang kedatangan Tionghoa ke Nusantara tentu tidak bisa mengabaikan Palembang.

Apalagi setelah saya membaca novel karya Remy Sylado tentang Chenghe: armada Chenghe justru paling lama berlabuh di Ju Gang.

Baca Juga:Pemkot Bandung Siapkan 226 Isoter Antisipasi Lonjakan Covid-19Doa Wadas

Siang hari awak armada itu berdagang. Malam hari, sebagian berkesenian. Sebagian lagi melakukan operasi militer: menangkap ”penjahat-penjahat politik” yang lari ke Ju Gang.

Para penjahat politik itu adalah mereka yang beroposisi ke kaisar. Mereka kalah, lalu lari ke selatan: ke Vietnam, ke Nusantara, terutama ke pelabuhan besar di sungai Musi yang tersembunyi itu.

Remy Sylado tentu belum diakui sebagai peneliti. Ia adalah seniman terkemuka. Terutama di seni music dan teater.

Tapi ia bertahun-tahun tenggelam di perpustakaan Belanda: soal asal usul orang Manado dan soal misi armada Chenghe.

Menurut Remy, di balik misi dagang dan budaya Chenghe ternyata ada misi menangkap oposisi sampai di mana pun.

Karena itu dalam novel Remy Sylado digambarkan ini: bagian bawah salah satu kapal di armada besar itu ada penjaranya. Mereka yang ditangkap selama ekspedisi dimasukkan penjara di bagian bawah kapal itu.

Saya pun keliling kelenteng marga Chu. Di halaman depan masih terlihat tenda besar. Pertanda yang sembahyang Imlek tadi malam sangat banyak.

Baca Juga:DPRD Cianjur Gelar Rapat Paripurna Usulan Penggantian Wakil KetuaCianjur Selatan Diusulkan Jadi Calon Kabupaten Baru ke DPRD Jabar, Begini Tanggapan PMCK

Di halaman baratnya ada “Rumah Nama”. Di situlah nama-nama orang marga Chu ditulis di atas lempengan-lempengan marmer.

Nama-nama itu adalah nama kakek-nenek mereka di zaman dulu. Juga nama-nama marga Chu zaman sekarang.

Di ruang nama itulah dipanjatkan doa oleh anak cucu mereka –sebelum nama si anak cucu sendiri pada gilirannya juga akan ditulis di situ.

Di halaman belakangnya ada tenda yang lebih besar lagi. Agak permanen. “Ini untuk pesta perkawinan. Bisa 5.000 orang,” ujar pengurus di situ. Berarti bisa untuk 700 meja –satu meja 8 orang di kebiasaan di sini.

Di sini ternyata biasa pesta perkawinan diselenggarakan di halaman belakang kelenteng: di bawah tenda tanpa AC.

0 Komentar