Cerita mistis di Balik Gempa Cianjur

CIANJUR, CIANJUR EKSPRES – Cerita mistis di balik gempa Cianjur berseliweran di sosial media dan grup whatsapp warga. Mulai dari pengungsi kesurupan, munculna sosok kuntilanak dan pocong di tenda pengungsian, hingga pengalaman relawan yang disembunyikan makhluk halus.

Cerita mistis di balik gempa Cianjur yang pertama adalah heboh sosok menyerupai pocong menyatroni tenda pengungsi korban gempa di areal Pemakaman Pamoyanan, Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Cianjur, beberapa hari lalu. Akibatnya tenda pengungsi menjadi kosong dan tak berpenghuni.

Warga yang tidak mau menyebutkan namanya mengaku sebenarnya tenda dadakan itu dibuat warga karena khawatir terjadi gempa susulan. Namun warga tersebut pun tidak mengalami dampak material.

“Rumahnya tidak apa-apa. Mengungsi itu mungkin takut ada gempa susulan,” tulisnya.

Saat kejadian, dia mengaku sedang begadang di halaman rumahnya dekat areal pemakaman dan tenda pengungsi hingga dini hari.

“Tapi tercium bau bangkai. Sontak, saya langsung masuk rumah. Eh, paginya tetangga ramai ada sosok yang diduga pocong menampakkan diri di samping pohon kelapa dekat tenda pengungsi,” candanya.

Penampakan sosok yang mirip  pocong itu tidak sengaja terfoto kamera telepon seluler oleh warga sekitar yang memotret sekeliling areal pemakaman, hingga ramai di grup WhatsApp.

Cerita mistis di balik gempa Cianjur selanjutnya datang dari relawan. Dede Sulaeman (38), warga Kabupaten Garut tersebut mengaku sempat hilang mengalami kejadian aneh pada saat mengantar logistik ke Kampung Rawacina Desa Nagrak Kecamatan Cianjur, Jumat (25/11/2022) lalu.

Pada saat itu Dede berangkat bersama dengan rombongan anggota Brimob untuk mengantarkan logitik untuk korban gempa di Kampung Rawacina pada pagi hari.

Berangkat dari poskonya di Kampung Karangtengah Desa Nagrak, Dede berngkat sebelum Salat Jumat.

“Saya dan rombongan berangkat dari posko sebelum (salat) Jumat. Setelah sampai ke lokasi kami seperti biasa menyalurkan bantuan kepada para korban gempa,” terang Dede kepada Cianjur Ekspres.

Selain menyalurkan bantuan, Dede dan rombongan juga ikut mendirikan tenda bagi para pengungsi. Pada saat itu, kata dia, kondisi di lokasi gempa masih belum kondusif.

“Masih banyak warga yang belum tersentuh bantuan. Tenda-tenda pengungsi berdiri seadanya,” ujar Dede.

Setelah selesai dengan aktivitasnya di pengungsian, Dede dan rombongan Brimob langsung menyantap makanan di sekitar lokasi.

“Saya ingat pas makan itu jam 2 siang. Habis itu saya izin ke rekan Brimob untuk istirahat sebentar di mobil pikap,” kenang Dede.

Tanpa sadar, Dede kemudian terlelap tidur kemudian bermimpi. Di dalam mimpinya, Dede kedatangan arwah perempuan salah satu korban gempa di Rawacina.

“Dalam mimpi itu datang seorang ibu yang menceritakan bahwa dirinya khawatir dengan kondisi anaknya yang sedang berada di Bandung,” kata Dede sambil menerawang mencoba mengingat kejadian mimpi itu.

Sampai akhirnya, kata Dede, ada seorang lelaki tua yang menepuk punggungnya. “Tong kamalinaan teuing (jangan kelewatan, red),” ujar Dede.

Seketika Dede terbangun dari tidurnya dan melihat bahwa suasana sudah gelap gulita.

Dede lantas mencari rombongan Brimob namun tidak menemukan satu orang pun, sampai akhirnya dia pulang ke posko.

Sesampainya di posko, Dede langsung mendapatkan banyak pertanyaan. Banyak dari rekannya yang menceritakan bahwa dia banyak yang mencari.

“Banyak orang nyari saya. Mobil saya juga katanya ga ada. Padahal saya ga kemana-mana. Saya tidur di mobil di titik awal kami datang,” kenang Dede.

Namun cerita dari rekannya yang menyebutkan bahwa dia hilang membuat dia merasa heran.

“Anggota sampai ada yang bolak-balik ke posko namun tidak juga menemukan saya,” ujar Dede.

Esok harinya, Dede kembali ke lokasi dan menceritakan apa yang ada dalam impian tersebut. Kebetulan pada saat itu ada pengungsi yang mendengar cerita Dede, dan membenarkan bahwa ada seorang ibu yang menjadi korban gempa kemudian tewas.

“Ini anaknya yang akang ceritakan,” ujar Dede menirukan ucapan sang pengungsi sambil menunjuk anak tersebut yang sedang menangis.

Itu dia cerita mistis di balik gempa Cianjur. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari cerita tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *