Bupati Cianjur Berharap Program 3 Zero HIV 2030 Segera Terwujud

Bupati Cianjur Berharap Program 3 Zero HIV 2030 Segera Terwujud. (zan)
Bupati Cianjur Berharap Program 3 Zero HIV 2030 Segera Terwujud. (zan)
0 Komentar

CIANJUREKSPRES – Bupati Cianjur Herman Suherman menginginkan program 3 Zero HIV 2030 bisa segera terwujud. Kuncinya, dengan menghilangkan diskriminasi dan memberdayakan komunitas-komunitas pemberdayaan orang dengah HIV/AIDS (ODHA).

Diketahui, 3 Zero HIV yakni zero kasus infeksi baru, zero kasus kametian karena HIB/AIDS, dan zero diskriminasi terhadap ODHA.

“Saya perintahkan khusus pada OPD terkait untuk mendukung penuh target 3 Zero HIV 2030. Kalau bisa lebih cepat tercapai, lebih baik,” ujar Herman saat peringatan Hari AIDS Sedunia yang digelar di Bale Wiwaha Pendopo Kabupaten Cianjur, Senin (18/12) pagi.

Baca Juga:Bangunan SDN Tanjungsari 03 Kondisinya MemprihatinkanBawaslu Belum Terima Laporan Pelanggaran Peserta Pemilu

Menurutnya, Pemkab Cianjur akan mengakomodasi permintaan-permintaan dari komunitas ODHA termasuk mengadakan lapangan kerja untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Mungkin nanti kita lihat dulu apa keahliannya, apakah ahli menjahit, atau ahli kecantikan. Supaya tidak ada lagi diskriminasi terhadap ODHA, dan lapangan kerja itu menjadi bekal bagi mereka. Ingat, jauhi virusnya, bukan orangnya,” kata Herman.

Selain itu, Herman meminta Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur untuk mendukung para komunitas dengan anggaran karena diketahui, bantuan dana dari Global Fund berakhir pada 2023 ini.

“Bantuan untuk meraka dari Global Fund itu berakhir tahun ini, padahal teman-teman kita ini masih perlu dibantu, baik pemberdayaan dan sosialisasi. Karena yang bisa membantu mereka adalah komunitas-komunitas ini, bukan orang lain,” ujarnya.

Pendamping ODHIV KDS Sehati Cianjur Eneng Santi Sugiman mengungkapkan harapan-harapan para ODHA di momen Peringatan Hari AIDS Sedunia.

Selain harapan adanya bantuan dana dan lapangan pekerjaan, pihaknya juga berharap stigma negatif dan diskriminasi terhadap ODHA bisa benar-benar ditekan.

“Karena hal itu masih kami rasakan saat ini, baik dari masyarakat umum, maupun dari tenaga medis itu sendiri. Maka sosialisasi sangat penting dilakukan agar keberadaan kami bisa diterima di lingkungan. Kami juga ingin menjalani hidup seperti orang normal lainnya,” kata Santi.

Baca Juga:Panwaslu Maksimalkan Pencegahan dan PenindakanSebanyak 1.922 Orang Terinveksi HIV/AIDS

Santi juga mengungkapkan jika penularan HIV/AIDS terus meningkat imbas dari mudahnya penyebaran informasi lewat media sosial. “Medsos ini terlalu bebas diakses oleh semua kalangan. Sehingga banyak informasi gaya hidup menyimpang yang terlihat dan kebanyakan langsung diterapkan tanpa dicerna dulu, khususnya oleh para generasi muda,” kata dia. (zan)

0 Komentar