Tangis Pecah di Momen Mengenang Setahun Gempa

Tangis Pecah di Momen Mengenang Setahun Gempa
0 Komentar

CIANJUR,cianjurekspres – Tangis Sandi Munawar (33) tak tertahankan lagi. Air matanya pecah saat momen doa bersama mengenang setahun tragedi gempa bumi yang luluh-lantakan Cianjur.

Betapa tidak, Sandi kehilangan istri dan anak bungsunya pada 21 November 2022 silam. Tertibun material longsor yang landa Kampung Cugenang RT 03/RW 01 Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang.

Fitria Ningsih (25) dan M Rafka Ardaputra (4) menjadi korban meninggal akibat tertimbun longsor, bersama 34 korban lainnya.

Baca Juga:Jelang Setahun Gempa Cianjur, Warga Cugenang Gelar Doa BersamaPeneliti Vulkanologi Kunjungi Zona Merah Gempa

Kata Sandi, keduanya baru dievakuasi dari dalam material longsoran tujuh hari setelah bencana, tepatnya pada Jumat 28 November 2022.

Penemuan kedua jenazah pun sempat mengegerkan tim pencarian jenazah dari BNPB, Basarnas, dan Brimob. Pasalnya, istri dan anak Sandi itu ditemukan dalam kondisi berpelukan.

“Setelah sepekan pencarian dan evakuasi jenazah, baru istri dan anak saya ditemukan. Saat itu pukul 11.00 WIB sebelum Salat Jumat 28 November 2022, ditemukan dalam kondisi berpelukan oleh tim pencarian dan evakuasi,” jelasnya pada Cianjur Ekspres, Selasa (21/11).

Kata dia, setelah evakuasi dan dipastikan oleh pihak RSUD Sayang jika yang ditemukan adalah keluarganya, Sandi pun langsung membawa jenazah anak dan istrinya ke Kampung Baros, Desa Mekarsari, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut.

“Jam 21.00 WIB saya langsung bawa jenazah anak dan istri saya ke kampung halamannya di Garut. Ada sedikit keajaiban saat itu. Secara tiba-tiba ada dua ambulan yang menuju Garut dalam keadaan kosong yang menawarkan untuk membawa jenazah istri dan anak saya. Mereka bahkan tidak ingin dibayar,” kata Sandi.

***

Tak Menyangka

Dia masih tak menyangka anak dan istrinya jadi korban tertimbun longsor. Karena tak biasanya sang istri dan anak bungsunya ada di rumah di siang hari. Di hari-hari sebelumnya, istrinya itu selalu di kafe yang ada di depan Masjid At Taqwa yang tak jauh dari rumah.

Dia yang merupakan Kaur Umum Kantor Desa Cijedil pun biasanya pulang ke rumah saat istirahat. Namun hari itu, dia memutuskan untuk istirahat di kantornya saja. Namun saat gempa terjadi, tak terpikirkan olehnya istri dan anaknya jadi korban.

Baca Juga:PMI Asal Cijati Meninggal di Kamboja, Keluarga Lapor PolisiPanji Sakti Hipnotis Ratusan Pecinta Musik Cianjur

Pukul 13.21 WIB gempa berguncang, dia tersentak dan segera kaluar kantor. Di jalan menuju rumah, dia sempat membantu anggota kepolisian karena bangunan Polsek Cugenang luluh lantak. Sesampainya di kampung, dia tak langsung menuju rumah, dia membantu guru ngaji yang ada di depan SD Negeri Cugenang.

0 Komentar