GeNose Tak Terkatakan

Petir Politik
ilustrasi.(ist)
0 Komentar

Mungkin UGM tidak akan mengalami kesulitan ini kalau ber-partner dengan perusahaan raksasa. Tapi UGM kelihatannya tidak ingin jatuh ke kapitalisme besar. UGM memilih perusahaan kecil sebagai partner.

Saya terharu melihat idealisme UGM seperti itu. Pesanan saya yang hanya 10 unit itu pun semata karena keterharuan itu.

Tapi inilah momentum bagi UGM untuk memiliki usaha yang bisa langsung mendapat pasar yang besar. Tentu speed juga jadi faktor penentu dalam bisnis.

Baca Juga:21 juta Lansia akan Divaksinasi Mulai Pertengahan Februari 2021Vaksinasi Covid-19 Dosis Kedua Bisa Tingkatkan Antibodi hingga 99 Persen

Meski bisnis ini sulit ditiru tetap saja kecepatan tidak boleh diabaikan. Tetap saja momentum adalah faktor penentu. Kalau produksi GeNose ini tidak didukung bersama, bisa-bisa UGM kehilangan momentum.

GeNose adalah juga salah satu momentum bagi ilmuwan Indonesia. Untuk bisa menjadi tuan di negeri sendiri. Di bidang ini. Bahkan punya potensi bisa ekspor secara besar-besaran.

Pasangan Prof Kuwat dan dokter Dian sendiri sebenarnya bukan pasangan baru. Bukan baru di GeNose. Keduanya sebenarnya sedang mengerjakan penelitian bidang sakit napas dan lumpuh layu. Tapi karena ada Covid penelitian pun dibelokkan dulu ke GeNose. Kebetulan masih satu garis. Hanya saja, kalau semula namanya e-Nose, kini menjadi GeNose –ditambah Gadjah Mada di depannya.

Dian sendiri lahir di Malang. SMA-nya di SMAN 1 Malang. Lalu masuk fakultas kedokteran Universitas Brawijaya, Malang.

Setelah ditugaskan di berbagai pelosok Nusantara (Aceh, Poso, Papua, dll) Dian masuk S-2 UGM. Lalu meneruskan S-3 di Kobe, Jepang.

Setelah mendapat gelar doktor, Dian dilarang pulang. Harus mengajar dulu di Jepang selama 2 tahun. Tidak masalah. Istrinya sudah ia bawa ke Jepang. Satu anaknya lahir di sana.

Tiba kembali di Jogja, Dian menghadiri presentasi Prof Kuwat. Yang lagi mencari partner penelitian.

Baca Juga:Libur Imlek, Tingkat Hunian Le Eminence Hotel Cianjur Naik 50 PersenPedagang Bunga Hias Cianjur Tetap Bertahan Saat Pandemi Covid-19

Meski sama-sama meraih gelar doktor di Jepang, tapi baru di forum itulah Dian berkenalan dengan Prof Kuwat. Jadilah mereka sepasang peneliti yang tangguh. Dengan karya yang ikut menentukan hasil penanganan pandemi di negeri ini. Kalau jadi. (*)

0 Komentar