BPBD Waspadai Daerah Rawan Longsor

BPBD Waspadai Daerah Rawan Longsor
WASPADA BENCANA: Hujan mulai mengguyur wilayah Kabupaten Cianjur dalam sepekan terakhir, BPBD Cianjur mulai melakukan pengawasan di wilayah rawan bencana. (ISTIMEWA)
0 Komentar

 
CIANJUR, cianjurekspres.net – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, melakukan pemantauan di daerah-daerah yang rawan pergerakan tanah dan longsor. Mengingat saat ini hujan mulai mengguyur beberapa wilayah, termasuk daerah rawan bencana.
Sekretaris BPBD Kabupaten Cianjur, Sugeng Supriyatno, mengatakan, jika mengacu pada jadwal, untuk musim kemarau baru akan berakhir pada penghujung September, sesuai dengan status siaga bencana kekeringan pada 30 September 2018.
Tetapi, ungkap dia, intensitas kemarau mulai menurun, mengingat puncaknya terjadi pada Agustus. Sehingga di awal bulan, kemarau menurun dan nantinya bakal beralih ke musim penghujan.
“Makanya ada beberapa kali hujan. Tetapi bukan berarti sudah masuk ke musim hujan, masih musim kemarau namun dengan intensitas cuaca yang beralih seusai puncaknya pada Agustus lalu. Apalagi hujannya belum menyeluruh, hanya dari perkotaan sampai Campaka,” kata dia kepada Cianjur Ekspres saat dihubungi melalui telepon seluler, kemarin (3/9).
Sugeng menuturkan, dengan adanya hujan di beberapa wilayah, termasuk perkotaan selama dua jam lebih bisa berpotensi bencana, tetapi sangat kecil. Retakan-retakan tanah akibat kondisi yang kering selama musim kemarau akan berpotensi ke pergerakan jika hujannya lebih intens dengan waktu yang lebih lama.
“Potensinya ada tapi kecil, kecuali kalau lebih lama lagi. Bisa saja itu nanti berpotensi terjadi pergerakan atau longsoran. Makanya akan tetap kami pantau untuk antisipasi bencana lain,” tuturnya.
Sementara itu, ditanya terkait cakupan wilayah yang kekeringan selama kemarau, Sugeng, mengatakan, mencapai 10 kecamatan dengan hampir 100 desa terdampak. Jumlah itu berdasarkan hasil laporan saat puncak dari musim kemarau tahun ini terjadi pada Agustus.
Menurutnya, dari pengamatan tim BPBD di lapangan, tidak semua daerah tersebut mengalami kekeringan sepenuhnya, beberapa wilayah masih ada air sungai, namun tetap tidak bisa dikonsumsi, hanya sebatas untuk mengairi lahan pertanian.
“Jadi ada yang memang kekeringan ada juga yang kekurangan air bersih. Tapi tetap saja kami masukan untuk mendapatkan bantuan air bersih ke wilayah yang terdampak dari musim kemarau,” kata dia.
Dia menambahkan, untuk beberapa wilayah terdampak kekeringan juga diketahui memiliki sumber air bersih. Sayangnya tidak ada sarana dan prasarana yang mumpuni untuk menunjang penggunaan air bersih tersebut. Padahal jika dioptimalkan, air bersih itu bisa mencukupi kebutuhan untuk satu sampai dua kampung di sekitarnya.

0 Komentar