Hiswana Migas: Dugaan BBM Oplosan ini Memalukan 

Isi pertamax
Seorang petugas SPBU Pertamina mengisi Pertamax ke mobil konsumen. (Foto: Pertamina)
0 Komentar

CIANJUR, Cianjur.jabarekspres.com – Wakil Ketua DPC Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Kabupaten Cianjur, Hendi Mulyadi menyebut jika praktik oplos BBM jenis Pertamax dengan Pertalite sangat memalukan.

“Kita sangat menyayangkan, bukan hanya sebagai Hiswana Migas, tapi juga sebagai masyarakat. Kita merasa ditipu oleh oknum, sehingga proses hukum harus tetap dijalankan, siapapun yang melanggar. Dugaan BBM oplosan ini memalukan,” ungkapnya pada Cianjur Ekspres.

Dirinya bahkan menilai jika kabar yang tersiar soal monopoli dan pengoplosan BBM, sebagai kejahatan yang luar biasa karena sudah membohongi masyarakat.

Baca Juga:Skandal Dugaan Pertamax Oplosan Membuat Warga Merasa TertipuKCD Pendidikan VI Jabar Klarifikasi Status Kepala SMAN 1 Cianjur

“Berapa banyak kerugian dari masyarakat pengguna Pertamax yang ditimbulkan? Ternyata bukan miras oplosan saja yang meresahkan, BBM oplosan pun kini meresahkan,” katanya.

Seharusnya, Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang seharusnya melakukan pengawasan pada BBM ilegal oplosan di lapangan.

“Tapi praktik ini malah dilakukan oleh oknum yang memiliki jabatan penting, bahkan pucuk pimpinan di Pertamina. Sangat menyedihkan, miris,” kata dia.

Pihaknya pun dengan tegas mengutuk tindakan yang dilakukan oknum petinggi Pertamina yang diduga sebabkan skandal mega korupsi di Indonesia.

“Kita dari Hiswana mengutuk keras oknum tersebut. Tindak sesuai dengan hukum yang berlaku,” tegasnya.

Di sisi lain, Corporate Secretary Sub Holding Pertamina Commercial & Trading PT Pertamina Patra Niaga, Heppy Wulansari dalam resminya menyebutkan jika kualitas Pertamax dipastikan sesuai spesifikasi yang ditetapkan pemerintah yakni RON 92.

“Produk yang masuk ke terminal BBM Pertamina merupakan produk jadi yang sesuai dengan RON masing-masing, Pertalite memiliki RON 90 dan Pertamax memiliki RON 92. Spesifikasi yang disalurkan ke masyarakat dari awal penerimaan produk di terminal Pertamina telah sesuai dengan ketentuan pemerintah,” tulis Heppy, Selasa (25/2).

Baca Juga:Smansa Cianjur Study Tour ke Bali, Smancil Gagal ke YogyakartaPengalaman Retret Kepala Daerah bagi Wahyu: Penuh Energi dan Disiplin

Heppy melanjutkan, treatment yang dilakukan di terminal utama BBM adalah proses injeksi warna (dyes) sebagai pembeda produk agar mudah dikenali masyarakat. Selain itu juga ada injeksi additive yang berfungsi untuk meningkatkan performance produk Pertamax.

“Jadi bukan pengoplosan atau mengubah RON. Masyarakat tidak perlu khawatir dengan kualitas Pertamax,” jelas Heppy.

0 Komentar