Cara Bertahan Hidup Dialam Versi Pendaki

Editor:

CIANJUREKSPRES – Bertahan hidup dialam liar, organisasi pecinta alam kerap mendaki gunung. Kegiatan ini cukup banyak digemari orang-orang.Mendaki gunung memang mengasyikkan, terlebih untuk melepas penat dari hiruk pikuk kota.Perlu diketahui, bahwa kegiatan semacam itu bukanlah hanya sebatas mencari kesenangan dan menikmati alam saja.Sebelum memulai pendakian, kita harus mempersiapkan berbagai macam hal untuk bertahan hidup dialam liar.

Alam bebas bukanlah wahana yang mudah untuk ditaklukkan. Keadaan alam sangat sulit untuk diprediksi. Di satu waktu, alam bebas bisa sangat bersahabat, tapi juga sering berbahaya. Untuk itu, persiapan menjadi hal yang penting sebelum memutuskan untuk berpetualang ke alam bebas.

4 Hal dan persiapan penting yang harus kita perhatikan

1. Tetap Tenang

 

BACA JUGA : Hal Mistis Yang Sering Di Alami Pendaki Saat Naik Gunung Gede-Pangrango

Panik tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan malah memperburuk keadaan. Untuk menguasai keadaan, diperlukan pikiran yang jernih dan positif. Meski sulit, hal ini dapat membantu dalam menentukan langkah apa yang harus dilakukan saat tersesat. Selain itu, lakukan beberapa langkah sebagai berikut:

-Susun rencana ke depan -Inventarisir persediaan yang ada

-Tentukan hal-hal penting untuk mulai bertahan hidup (persediaan air, tempat berteduh, sumber kehangatan)

-Determinasi dan ketabahan kadang menjadi penentu keselamatan saat tersesat

-Hilangkan perasaan buruk

-Tersesat mungkin menyebabkan putus asa, namun tetaplah fokus pada hal-hal penting untuk bertahan hidup.

 

2. Buatlah Tempat Bernaung

 

Salah satu hal terpenting yang harus diperhatikan di alam bebas adalah suhu udara. Kehilangan kehangatan pada badan dapat menyebabkan hipotermia, yang bisa memicu kematian. Di samping itu, terpapar sinar matahari yang panas secara langsung juga dapat membakar kulit, hingga dehidrasi. Suhu tubuh yang optimal sangat diperlukan untuk menentukan kelangsungan hidup saat tersesat di alam bebas. Oleh karena itu, para petualang perlu membuat tempat bernaung saat bermalam di alam bebas, baik saat tersesat maupun tidak. Berikut rekomendasi untuk membuat tempat bernaung saat tersesat di alam bebas:

-Bila udara terlalu panas, galilah tanah beberapa sentimeter terlebih dahulu hingga mencapai lapisan yang lebih dingin.

-Buatlah rangka naungan sederhana. Cari sumber daya yang ada, seperti pohon tumbang, atau sandarkan batang pohon ke bidang yang kokoh.

-Susun ranting pohon untuk menutupi salah satu sisi. Atau, apabila memungkinkan, tutupi kedua sisinya dengan menyusun ranting yang lebih banyak. Usahakan untuk menyusun serapi dan serapat mungkin.

-Tutupi rangka yang telah disusun tadi dengan dedaunan. Semakin tebal dedaunan, semakin baik menahan hawa dingin. Lakukan hal yang sama pada tanah bagian dalam sebagai alas.

3. Mencari sumber air

 

BACA JUGA : TNGGP Tutup Aktivitas Pendakian Hingga 17 Mei, Ini Alasannya

Ketika kamu sedang di hutan dan cadangan air kamu menipis, kamu harus segera menemukan sumber air. Entah itu sungai, danau, air terjun atau aliran air.

  1. Cari air yang mengalir dari tempat tinggi karena kemungkinan lebih bersih dan higienis, jika tidak ada genangan air pun bisa di minum. Tapi periksa dan kalau sempat rebus air terlebih dahulu.
  2. Tampung air hujan ketika hujan turun. Kamu bisa memanfaatkan plastik atau apapun untuk menampung air ketika hujan turun.
  3. Minum air embun yang ada di dedaunan.
  4. Kumpulkan embun dengan cara mengusap kain bersih ke dedaunan. Lalu ambil wadah dan peras kain tersebut. Jangan mengambil embun di tanaman beracun atau tempat curam.
  5. Memerangkap air di tanaman. Untuk cara yang satu ini, kamu cukup mencari pohon yang tidak terlalu tinggi. Ambil segerombol dedaunan dan masukkan ke dalam plastik. Ikat bagian ujungnya, pohon menghasilkan air dari proses trasnpirasi di pagi hingga sore hari.

 

4. Buatlah Perapian

 

Selain untuk penerangan, api bisa membantu menjaga suhu badan tetap hangat. Mulailah dengan mengumpulkan sulur atau jarum pinus kering sebagai sumbu. Lalu, kumpulkan berbagai ukuran kayu kering yang ada, mulai dari yang besar hingga ranting-ranting kecil. Kemudian, ikuti langkah berikut ini:

-Susun kayu berukuran besar membentuk lingkaran untuk menahan angin.

-Buatlah kerangka berbentuk limasan di dalamnya. Caranya, berdirikan balok kayu sebagai penyangga di tengah, lalu susun kayu berukuran sedang di sekitarnya. Susun hingga rapat, namun sisakan lubang untuk memasukkan sumbu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *