Pesisir Barat Lampung Larang Lato-Lato

Editor: Reporter: Pujo Priyo Susilo

CIANJUR, CIANJUREKSPRES – Pesisir Barat Lampung larang lato-lato, padahal permainan ini tengah viral dan kembali menjadi mainan yang banyak diminati masyarakat khususnya anak-anak.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pesisir Barat Lampung larang lato-lato, lantaran permainan lato-lato ini membuat banyak anak-anak membawa permainan ini ke lingkungan sekolah.

Baca Juga: Kisah Horor Lato-lato Tahun 70-an, Bikin Merinding! 

Disdikbud Pesisir Barat Lampung larang lato-lato, khususnya untuk siswa yang membawa lato-lato ke sekolah sebagaimana tertuang dalam surat edaran bernomor 420/13/IV.01/2023.

Dikutip dari disway.id pihak Disdikbud Pesisir Barat, Lampung, mengeluarkan surat edaran larangan membawa lato-lato ke sekolah.

Baca Juga: 4 Trik Main Lato-lato yang Tidak Biasa, Berani Coba?

Permainan yang tengah viral saat ini dianggap mengganggu fokus belajar siswa sekolah.

Selain itu, pihaknya juga menilai, lato-lato ini bisa membahayakan keselamatan para siswa di sekolah, sekaligus bertujuan untuk menghindari jika terjadi keributan dan lato-lato dijadikan sebagai alat.

Baca Juga: Termasuk Lato-lato, Ini 5 Permainan Jadul yang Bikin Kangen Masa Kecil!

Apa Itu Permainan Lato-lato?

Lato-lato merupakan permainan tradisional yang juga ditemukan di Indonesia, pasalnya permainan ini berasal dari Amerika Serikat sudah lebih dulu digandrungi masyarakat pada 1960-an lalu mulai populer tahun 1970-an.

Di Indonesia sendiri, permainan lato-lato mulai populer pada tahun 1990-an dan terkenal dengan sebutan lato-lato atau nok-nok, sedangkan permainan lato-lato dalam bahasa Inggris disebut dengan clackers.

Pada awal kemunculannya, lato-lato terbuat dari material kaca dan cara bermainnya dianggap berbahaya.

Bahan material kaca tersebut berpotensi pecah dan berserpihan saat dimainkan.

Hingga kemudian, material pembuatan lato-lato diganti menjadi berbahan plastik.

Permainan dengan dua bandulan berbentuk bola yang tersambungkan dengan tali, lalu bandulan tersebut dibenturkan dan menghasilkan suara “tek-tek-tek”.

Meskipun sudah sudah menggunakan material plastik, tetap saja pengaplikasian permainan lato-lato pada anak-anak harus tetap selalu dalam pengawasan orangtua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *