IPM Cianjur Masih Terendah di Jawa Barat

Cianjurekspres.net – Koordinator Fungsi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik, BPS Cianjur, Warji Permana mengatakan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terdiri dari tiga komponen diantaranya pendidikan, kesehatan, dan pengeluaran perkapita.

“Kalau berkaitan dengan IPM ada tiga komponen diantaranya ada pendidikan, kesehatan, dan pengeluaran perkapita. Kalau saya lihat di Cianjur ini terjadi fenomena rata lama sekolah ini masih berada dibawah, hal tersebut menunjang terjadinya peningkatan angka kemiskinan,” kata Warji, belum lama ini dilansir dari Harian Umum Cianjur Ekspres.

Warji mengatakan, dari komponen kesehatan adalah lama hidup, pendidikan terdiri dari dua sub komponen diantaranya, harapan lama sekola (HLS) dan rata-rata lama sekolah (RLS) dan dari komponen ekonomi adalah pengeluaran perkapita.

“Dari IPM saja sudah beberapa komponen yang perlu diperbaiki, mulai dari pendidikan diantaranya HLS, RLS, dan ekonomi ada pengeluaran perkapita,” jelasnya.

Warji mengatakan, di Cianjur ini terjadi fenomena rata-rata lama sekolah, atau harapan lama sekolahnya masih berada dibawah.

“Untuk tahun 2020 saja, posisi RLS atau HLS berada di posisi atau sebesar 7,8 persen,” katanya.

Dalam hal ini lanjut Warji, bahwa BPS ini bukan instansi di daerah akan tetapi instansi vertikal yang bertanggung jawab langsung ke Presiden RI.

“Dalam hal ini BPS hanya melakukan pendataan di lapangan, selain itu tidak ada kebijakan untuk memberikan atau bisa diintervensi oleh pemerintah daerah karena sifatnya setelah memotret kondisi yang sebenarnya di lapangan maka akan kita langsung laporkan ke pemerintah pusat,” ujarnya.

Menurutnya, dalam hal ini IPM di Cianjur masih ada diposisi terendah di Provinsi Jawa Barat ada di point 65,36.

“Jadi, kendalanya setelah dilakukan pendataan IPM Cianjur ini masih berada dibawah berdasarkan data dari tahun 2019 itu karena tren rata-rata lama sekolah yang menjadi kendala,” paparnya.

Warji mengatakan, kepala daerah sebaiknya harus cepat membuat kebijakan salah satunya dengan menggalakan kegiatan belajar mengajar (KBM) khususnya yang berada di daerah pesisiran Cianjur.

“Sebaiknya kepala daerah ini segera membuat kebijakan salah satunya menggalakkan KBM, terutama di lingkungan pesantren,” jelasnya.

Ia mengatakan, bahwa rata-rata masyarakat Cianjur ini lebih memilih anak-anaknya memasukannya ke Pesantren tradisional sehingga minim pendidikan formalnya.(hyt/yis/sri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.