Kurangi Keterisian Tempat Tidur, Pemprov Jabar Terapkan Pola Hulu-Hilir

Kurangi Keterisian Tempat Tidur, Pemprov Jabar Terapkan Pola Hulu-Hilir
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. (ist)
0 Komentar

Cianjurekspres.net – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerapkan pola hulu-hilir untuk mengurangi tingkat keterisian tempat tidur (Bed Occupancy Ratio/BOR) di rumah sakit.

Menurut Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, pola hulu dan hilir akan dilakukan olteh Pemprov Jawa Barat. Diharapkan dengan pola ini angka BOR di rumah sakit yang ada di Jawa Barat bisa kembali turun.

“Dalam situasi darurat, Jawa Barat melakukan pola hulu dan pola hilir untuk mengurangi BOR rumah sakit,” ujar Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di Desa Jayaraga, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut dilansir dari humas.jabarprov.go.id, Jumat (25/6).

Baca Juga:Panen Perdana Tanaman Porang, Petani di Cianjur Raup Untung Ratusan Juta RupiahGaruda Baik Saja

Ridwan Kamil menjelaskan, pola hulu adalah dengan menyiapkan tempat isolasi di desa-desa. Sehingga masyarakat sekitar yang terpapar COVID-19 namun memiliki gejalan ringan tidak perlu dilarikan ke rumah sakit.

“Apa itu pola hulu? Pola hulu itu seperti ini jadi sebelum ke rumah sakit yang ringan sedang enggak usah ke rumah sakit cukup dirawat di sini. Karena waktu di Bandung Raya sepertiganya itu ternyata tidak perlu di Rumah Sakit. Tapi karena kurang edukasi sehingga membebani kasur-kasur tempat tidur di rumah sakit,” jelas pria yang kerap disapa Kang Emil

Sedangkan untuk pola hilir adalah dengan memindahkan atau transisi pasien COVID-19 yang akan sembuh ke beberapa tempat dari mulai hotel, apartemen, rusun hingga tempat isolasi di desa-desa. Sehingga pasien COVID-19 yang benar-benar membutuhkan penanganan medis bisa diakamodasi di rumah sakit.

“Sehingga tempat tidur di rumah sakit yang terbatas itu betul-betul hanya mereka yang butuh penanganan emergency dan kondisi lagi berat,” jelasnya.

Pola hulu ke hilir ini sudah dilaksanakan di beberapa daerah. Hanya saja, Kang Emil berpesan agar pola hulu ke hilir ini bisa lebih dimaksimalkan.

“Pola hulu dan hilir ini lah yang di Garut sudah dilaksanakan tinggal dimaksimalkan, sehingga ini contoh ada yang kena (COVID-19) lima warga tinggal di sini dan sembuh. Bayangkan kalau tidak ada ini dan tanpa pengetahuan berarti si lima ini lari semua ke RSUD, nah itu yang akan bikin kolaps. Kurangnya pengetahuan,” kata Kang Emil.(hms/hyt)

0 Komentar