oleh

Gigit Anak Kandung Hingga Tewas, WNA Divonis 15 Tahun Penjara

Cianjurekspres.net – Warga negara asing (WNA) Maroko, Majda Laoly (29) didakwa menganiaya anak kandungnya SHM (5) hingga tewas.

Mengenakan baju gamis dipadu kerudung merah, Majda duduk termenung menghadap kamera video yang disinkronkan dengan jaringan internet ke ruang sidang.

Seperti yang disadur melalui Jawa Pos, Majda mendengarkan dengan seksama penerjemah bahasa yang dihadirkan kuasa hukumnya, saat menjelaskan tanggapan jaksa penuntut umum (JPU) atas nota keberatan (eksepsi) yang dilakukan dirinya pada persidangan sebelumnya.

Penerjemah ini disewa, karena Majda tidak memahami Bahasa Indonesia.

Majda Laoly tidak dihadirkan secara langsung ke dalam persidangan, karena situasi pandemi Covid-19, mengharuskan setiap terdakwa menjalani persidangan secara daring. Dia mengikuti jalannya persidangan dari balik jeruji besi.

“Dia (Majda Laoly) melakukan penganiayaan, sampai menyebabkan mati anak kandungnya,” kata Jaksa Rizki saat ditemui JawaPos.com di PN Jakarta Pusat.

Meski telah didakwa melakukan penganiayaan terhadap anaknya yang berinisial SHM hingga berujung kematian, Jaksa mengaku belum bisa mengungkap motif peristiwa itu. Tetapi berdasarkan hasil otopsi korban, diduga terdapat lebam dan gigitan.

“Kita belum bisa kita ungkap motifnya. Tapi bagaimana dia menganiaya, nanti bisa kita lihat di persidangan,” papar Jaksa Rizki.

Peristiwa ini sempat menjadi perhatian publik, saat masih ditangani oleh Polres Metro Jakarta Pusat. Bahkan saat dalam proses penyidikan, Majda sempat diperika kejiwaannya, karena dituduh menyiksa anaknya hingga berujung kematian.

Peristiwa mencekam itu terjadi pada Selasa, 1 September sekitar pukul 11.45 WIB di lantai 12 Apartemen Pavilion, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Diduga, anak kandungnya itu tewas akibat terbentur benda tumpul.  Ini karena terdapat luka memar di belakang kepala. Selain luka memar, juga ditemukan luka gigitan pada tubuh korban.

Berdasarkan keterangan saksi M, sebelum peristiwa nahas itu terjadi, korban tinggal bersama pelaku selama beberapa hari. Korban sendiri sudah lama tak bertemu dengan pelaku, karena sejak lahir dititipkan kepada pengasuh.

Karena hendak dibawa ke Maroko, pelaku pun mendatangi korban ke Indonesia. Sedangkan bapaknya berinisial H yang merupakan WNA Maroko tinggal di Belanda.

Atas perbuatannya, Majda didakwa melanggar Pasal 76C juncto Pasal 80 ayat (3) Undang Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan atau Pasal 338 KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun dan atau denda paling banyak Rp 3 miliar.

Terpisah, melalui tim kuasa hukumnya, Syamsuddin, Majda tak terima didakwa menganiaya anak semata wayangnya, hingga meninggal dunia di dalam kamar mandi. Ini karena pada saat kejadian, tidak ada saksi mata yang mengetahui secara rinci peristiwa tersebut.

“Surat dakwaan Jaksa tidak ada satu pun yang tahu dan melihat secara langsung,” ucap Syamsuddin.

Saksi yang diperiksa penyidik dan termuat dalam dakwaan kata Syamsuddin, hanya mengetahui setelah anak dari kliennya itu meninggal dunia.

“Dalam dakwaan itu tidak ada saksi, dia hanya mengetahui peristiwanya sudah terjadi. Kejadian jam 12 siang, itu ibu dengan anaknya dan pembantunya. Pembantunya pergi, setelah pembantunya pergi tidak ada tanda-tanda,” beber Syamsuddin.

Syamsuddin tak memungkiri, saat proses penyidikan, Majda tidak didampingi oleh tim penasihat hukum. Faktor bahasa saat proses penyidikan pun menjadi kendala proses penanganan perkara. Dia mengakui, kliennya itu tidak bisa berbicara atau memahami bahasa Indonesia.

“Jadi seperti eksepsi kita itu ya, nanti kita buktikan, dia (JPU) bisa buktikan enggak (dakwaan). Karena klien saya ini tidak menandatangani BAP mulai dari awal sampai akhir,” ujar Syamsuddin menyesalkan.

Syamsuddin menyebut, tidak adanya saksi mata pada saat kejadian bisa melemahkan dakwaan jaksa. Terlebih kesimpulan tuduhan penganiayaan hingga menyebabkan meninggal dunia, hanya dari hasil otopsi rumah sakit.

“Itu kan (anaknya) jatuh di dalam WC, takdir. Ini karena dianalogikan oleh penyidik, ibunya yang melakukan seolah-olah ibunya yang melakukan. Karena dia hanya dua orang disitu,” beber Syamsuddin.

“Kalau peristiwa seperti itu tidak ada yang melihat, pasti kan yang dituduh ibunya,” sambungnya.

Menurut Syamsuddin, seharusnya ahli dalam hal ini dokter spesialis tidak boleh menerka-nerka penyebab kematian anak dari kliennya itu. Dia menegaskan, seorang ahli tidak bisa bicara kemungkinan atas nama hukum.

“Dokter ahli mengatakan bahwa lebam itu akibat gini, akibat gini kan harus jelas. Ini kan dokter ahli, bukan meraba-raba, bukan kemungkinan, kemungkinan bukan ahli. Jadi kita jangan menzalimi orang, karena itu kalau yang begitu (meninggal dunia) kan takdir,” tegas Syamsuddin.

Berdasarkan keterangan Majda, sambung Syamsuddin, anak kliennya itu tidak memiliki rekam medis penyakit. Dia tak memungkiri, anak kandung Majda meninggal dunia akibat jatuh dan terbentur lantai kamar mandi.

“Tidak ada (penyakit), artinya licin dia jatuh saja, dia jatuh terbentur kepalanya di lantai agak keras itu, makanya pendarahan itu sampai ke paru-paru, hasil otopsi kan mayat itu diantar ke Cipto (RS Cipto Mangung Kusumo) untuk di otopsi, wajar kalau lebam itu (pendarahan) menjalar,” ungkap Syamsuddin.

Selain itu, H, suami Majda yang merupakan Ayah kandung korban pun tidak mempermasalahkannya. Karena meninggal dunia merupakan takdir Tuhan.

“Setelah kejadian, beliau langsung telepon suaminya. Suaminya tidak mempermasalahkan,” klaim Syamsuddin.

Karena itu, Syamsuddin meyakini kliennya itu tidak mengakibatkan menganiaya anaknya hingga berujung kematian. Terlebih hingga kini, Majda masih mengalami trauma dari kepergian anaknya itu.

“Tidak mungkin seorang ibu menyiksa anaknya, dia sampai sekarang juga masih trauma dengan anaknya, yasinan terus dia di tahanan sana. Dia juga rindu sama anaknya. Makanya di prolog itu kami buat, sekejam harimau dia sayang anaknya itu, digigit pakai gigi, itu harimau, apalagi seorang manusia yang punya akhlak, yang punya akal,” cetus Syamsuddin.

Oleh karena itu, Syamsuddin mengharapkan proses hukum terhadap kliennya berjalan objektif. Dia meminta JPU untuk mengungkap motif di dalam persidangan.

“Kita lihat saja, tanggung jawab sendiri,” ucap Syamsuddin menandaskan.(jwp/nik)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *