Mengenal Lebih Dekat Jahira, Jahe Merah Terbaik Indonesia bersama BRMP TROA

JAHIRA
Petani lokal di Jawa Barat tengah memanen tanaman jahe merah varian Jahira yang banyak dibutuhkan industri farmasi herbal di Indonesia (Foto: CBMandala)
0 Komentar

CIANJUR EKSPRES – Setelah menjadi salah satu rimpang yang paling diandalkan dan dicari selama masa pandemi Covid-19, kini jahe merah kembali naik popularitasnya di dunia pengobatan alami. Rempah asli Nusantara ini telah lama dikenal dalam pengobatan tradisional untuk menjaga daya tahan tubuh, menghangatkan badan, hingga meredakan berbagai keluhan kesehatan ringan, termasuk gejala masuk angin.

Di balik popularitas jahe merah, terdapat satu varietas unggulan yang kini mulai menarik perhatian akademisi, petani, maupun industri herbal nasional: Jahira. Kehadirannya menjadi jawaban strategis bagi tuntutan pasar modern yang menginginkan solusi herbal untuk kesehatan dan kebugaran tubuh.

Kepala BRMP TROA Kementerian Pertanian, Prima Luna, S.TP, M.Si, PhD, di bidang Food and Nutritional Sciences mengungkapkan bahwa kualitas jahe merah yang beredar di masyarakat sebenarnya tidak sama. “Tanaman obat seperti jahe merah harus memiliki informasi lengkap mengenai asal benih dan jenisnya, karena hal ini pasti akan memengaruhi kandungan komponen aktif hingga morfologi tanamannya,” ujar Prima Luna, Selasa (23/6).

Baca Juga:Akselerasi UMKM Naik Kelas, BRI Bandung Setiabudi Perkuat Ekosistem Pemenang BRIncubator Lokal 2026Sapa Warga Bandung di Dago: BRI Manfaatkan CFD dengan Banjir Promo Spesial BRImo

Varietas Zingiber officinale var. rubrum klon Jahira ini merupakan hasil pemuliaan nasional yang dirancang khusus untuk memenuhi standarisasi industri. Penelitian menunjukkan bahwa Jahira memiliki kadar gingerol, dan shogaol yang jauh lebih tinggi dari jahe merah biasa, menjadikannya agen antiinflamasi, antioksidan, dan peningkat imunitas yang superior.

Jembatan Tradisi dan Sains Global Indonesia telah lama dikenal sebagai salah satu episentrum megabiodiversitas dunia yang menyimpan kekayaan herbal melimpah. Sayangnya, potensi masif ini kerap berhenti pada tataran tradisi lokal tanpa berhasil dikonversikan menjadi identitas nasional di panggung internasional. Industri kesehatan global saat ini tengah bergerak ke arah paradigma preventif, di mana konsumen dunia aktif mencari bahan alami berkualitas tinggi.

Realitas ini menuntut adanya standarisasi ilmiah agar warisan leluhur tidak hanya dipandang sebelah mata sebagai pengobatan alternatif tanpa basis data terukur. Kehadiran varietas Jahira memecah kebuntuan tersebut. Resmi diperkenalkan Kementerian Pertanian, Jahira dirancang khusus sebagai varietas unggulan yang menjawab kebutuhan standarisasi industri modern.

Melalui riset agronomis ketat dan pemuliaan terukur, varietas ini membuktikan bahwa inovasi berbasis sumber daya lokal mampu menjadi jembatan solid antara kearifan tradisional, pembuktian ilmiah, serta pengembangan ekonomi berkelanjutan.

0 Komentar