Selama ini, industri farmasi dalam negeri masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor. Melalui proses hilirisasi yang tepat, Jahira dapat ditransformasikan dari sekadar komoditas pertanian mentah menjadi produk bernilai LITERASI SEHAT tambah tinggi yang lolos uji klinis. Relevansi Jahira menjadi sangat krusial di kala industri manufaktur obat terus dituntut mencari bahan baku lokal yang berkualitas, konsisten, dan berkelanjutan (sustainable).
Mengintegrasikan Jahira ke dalam lini produksi farmasi nasional akan memperkuat kemandirian industri herbal dan biofarmaka berbasis kekayaan hayati asli Indonesia. “Indonesia, Rumah Jahira” di Kancah Dunia Sebagai The Pride of Indonesia, Jahira memiliki peluang besar dalam langkah strategis diplomasi global.
Komoditas premium ini siap diintegrasikan untuk memperkenalkan sekaligus mengukuhkan kekayaan alam Nusantara di mata internasional. Jahira adalah simbol transisi sempurna yang mengemas nilai sejarah pengobatan tradisional ke dalam era riset medis modern dengan efektivitas tinggi yang konsisten. Identitas murni “asli Indonesia” yang melekat kuat menjadi modal utama untuk melakukan penetrasi di pasar domestik maupun ekspor global.
Baca Juga:Akselerasi UMKM Naik Kelas, BRI Bandung Setiabudi Perkuat Ekosistem Pemenang BRIncubator Lokal 2026Sapa Warga Bandung di Dago: BRI Manfaatkan CFD dengan Banjir Promo Spesial BRImo
“Kami di BRMP TROA sangat bangga jika ada pihak perusahaan atau industri yang mau bergerak memanfaatkan hasil inovasi ini. Jahira merupakan jahe merah unggul Indonesia, dan jalinan kerja sama serta pemanfaatan oleh sektor industri akan menjadi langkah yang sangat luar biasa dalam mengangkat inovasi kekayaan hayati lokal kita ke tingkat dunia,” tambah Prima Luna.
Melalui sinergi dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, Jahira dapat dijadikan produk unggulan yang ditampilkan langsung kepada wisatawan mancanegara sebagai representasi budaya sehat Nusantara.
“Jika Korea Selatan sukses menduniakan slogan “Korea Negeri Ginseng”, maka Indonesia harus berani mengampanyekan narasi besar: “Indonesia, Rumah Jahira”. Melalui langkah ini, mengonsumsi produk berbasis Jahira bukan lagi sekadar upaya menjaga imunitas tubuh, melainkan sebuah gerakan kultural mendukung komoditas lokal naik kelas di kancah dunia,” pungkas Prima Luna. (rls/rie)
