Sebagai komoditas premium, keunggulan utama Jahira terletak pada konsistensi kualitas rimpang, produktivitas tinggi, serta profil senyawa bioaktifnya yang superior. Berbeda dari jahe merah biasa yang beredar di pasar tradisional dengan tingkat kestabilan zat aktif fluktuatif, klon Jahira menawarkan keunggulan fungsional yang dapat dipertanggungjawabkan secara klinis.
Kandungan flavonoid serta kapasitas antioksidannya tercatat jauh lebih tinggi. Senyawa aktif utama seperti gingerol, shogaol, paradol, dan zingerone bekerja secara sinergis melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.
“Keunggulan Jahira 2 secara spesifik terletak pada tingkat kadar gingerolnya yang sangat tinggi. Komponen aktif ini sangat baik dan efektif untuk meningkatkan daya tahan tubuh serta memberikan efek termogenik atau rasa hangat yang konsisten bagi tubuh, sehingga baik digunakan untuk melegakan gejala masuk angin,” papar Prima Luna.
Baca Juga:Akselerasi UMKM Naik Kelas, BRI Bandung Setiabudi Perkuat Ekosistem Pemenang BRIncubator Lokal 2026Sapa Warga Bandung di Dago: BRI Manfaatkan CFD dengan Banjir Promo Spesial BRImo
Berbagai riset juga mengonfirmasi adanya aktivitas antimikroba alami dalam rimpang ini. Tingginya densitas senyawa bioaktif yang konsisten ini menjadikan klon Jahira sangat potensial untuk diadopsi sebagai bahan baku utama dalam ekosistem produk herbal modern. Dalam hal riset berbagai kekayaan herbal di Indonesia, salah satunya adalah BRMP TROA (Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Rempah, Obat, dan Aromatik).
“Kami punya banyak layanan, ada layanan pengujian, layanan kunjungan jadi punya petak pamer kalau mau melihat lebih dekat dengan tanaman obat yang tadi saya sebutkan 400 jenis, juga ada layanan kerjasama dan layanan perakitan,” ujar Prima Luna menceritakan mengenai BRMP TROA.
Sebagai pusat riset dan pengembangan, BRMP TROA membuka pintu selebar-lebarnya bagi seluruh lapisan masyarakat untuk berkolaborasi dan memanfaatkan fasilitas yang ada. Masyarakat dapat memanfaatkan layanan pengujian kandungan tanaman, melakukan kerja sama riset, hingga mengunjungi petak pamer balai secara langsung untuk mengedukasi diri mengenai ratusan jenis tanaman obat yang dikoleksi di sana.
Selain itu, BRMP TROA juga aktif mendukung sektor pendidikan dengan kolaborasi bagi kalangan akademis dan program magang untuk mahasiswa. Urgensi Hilirisasi dan Kemandirian Farmasi Di kalangan akademisi dan pelaku industri, muncul sebuah pertanyaan: apakah Jahira memerlukan perhatian intensif dari industri farmasi untuk dijadikan kandungan obat herbal fungsional di Indonesia? Jawabannya tidak sekadar berputar pada aspek kesehatan, melainkan menyentuh kedaulatan industri nasional.
