Siswa di Cianjur Belajar di Tenda Pengungsian Warga

CIANJUR, CIANJUREKSPRES – Ratusan siswa SDN Cibeureum, Desa Cibeureum, Kecamatan Cugenang, Cianjur, terpaksa harus belajar  di tenda bekas pengungsian yang digunakan warga di Kampung Warungbawang, Desa Cibeureum, Kecamatan Cugenang, Cianjur.

BACA JUGA:  Ratusan Siswa SDN Panyaweuyan Pacet Cianjur Belajar di Tenda Kelas Darurat

Andini (13), siswi kelas enam SDN Cibeureum mengaku sedih karena harus belajar di tenda pengungsian. Selain tidak nyaman, Andini juga sulit menyerap pelajaran.

“Jujur saya sangat sedih, karena harus belajar di tenda,” kata Andini.

Dia mengatakan, kegiatan belajar baru dilakukan dua hari setelah libur panjang pascagempa mengguncang Cianjur pada beberapa waktu lalu.

BACA JUGA:  Siswa MA Al-Ma’arif Juara 2 Lomba Pidato Bahasa Arab di Aksioma Tingkat Wilayah 2 Kabupaten Cianjur

“Ini jalan yang ketiga hari,” katanya.

Andini mengatakan, belajar  tidak bisa khusyu karena selain bising oleh kendaraan juga posisi dan cara menyampaikan materi oleh guru tidak begitu jelas.

BACA JUGA:  Tablet Samsung Galaxy Tab S7 FE 5G, Cocok Untuk Mahasiswa, Yuk Intip Sederet Kelebihannya!

“Harapan saya semoga Cianjur ini segera pulih dan bangkit,” ucapnya.

Guru SDN Cibeureum, Endang Supendi mengatakan, jumlah siswa di SDN Cibeureum sebanyak 465 orang terdiri dari kelas satu hingga kelas enam.

BACA JUGA:  Akun Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru 2023 Bisa Dibuat Sore Ini

“Kalau untuk yang di tenda di Kampung Warungbawang ini dimulai dari kelas empat, lima, enam atau kurang lebih setengahnya,” kata Endang.

Endang mengatakan, saat ini pihaknya masih banyak kekurangan sarana atau alat penunjang untuk kegiatan belajar seperti meja kecil sehingga di saat belajar pun anak-anak tidak lagi sambil tiduran.

BACA JUGA:  Calon Mahasiswa Wajib Catat, Ini Syarat-syarat SNBT 2023

“Yang kami butuhkan saat ini adalah seperti meja kecil untuk kegiatan belajar,” jelasnya.

Selain itu lanjut Endang, kegiatan belajar di tenda dipastikan masih akan berlangsung lama atau paling telatnya enam bulan, bahkan bisa satu tahun ke depan.

“Kenapa karena belum terlihat ada perbaikan sekolah, jadi belajar di tenda ini bisa jadi satu tahun ke depan,” pungkasnya.(yis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *