Kuliner Tanaman Ganja Aceh, Ada Sejak Jaman Kesultanan

CIANJUR, CIANJUREKSPRES – Kuliner tanaman ganja Aceh, sudah tak asing lagi bagi masyarakat di Serambi Mekah.

Ganja digunakan sebagai bumbu olahan kuliner tanaman ganja Aceh, sejak jaman dulu atau masa Kesultanan Aceh.

Baca Juga: 7000 Anak di Amerika Serikat Tak Sengaja Konsumsi Ganja

Kehadiran kuliner tanaman ganja Aceh juga masih menjadi budaya masyarakat hingga kini. Namun, penggunaannya yang lebih tertutup, tidak seperti dahulu yang digunakan terang-terangan. Sebab, jenis itu dilarang digunakan dalam bentuk apapun oleh pemerintah, karena jenis tanaman ini masuk dalam kategori satu obat-obatan terlarang.

Dalam kuliner, tidak semua komponen di tanaman ganja bisa digunakan. Hanya bijinya saja, yang dapat digunakan untuk bumbu masak. Biji-biji ganda dinilai mampu membuat daging empuk dan tentunya masakan bisa lebih sedap.

Baca Juga: 5 Kuliner Viral di Cianjur, Wargi Bandung dan Sekitarnya Wajib Coba!

Bahkan, dengan campuran biji ganja, makanan berkuah diyakini bisa menjadi pengawet makanan alami. Sehingga tidak perlu alat berupa lemari pendingin atau kulkas untuk menyimpan makanan agar tahan lama.

Kuliner Aceh yang sering dicampur biji ganja adalah kuah beulangong, kari sie itek, ie bu peudah dan makanan yang menggunakan rempah lainnya. Namun kini penggunaan biji ganja ini jarang digunakan seiring dengan ketatnya hukum negara terhadap peredaran ganja.

Baca Juga: Rekomendasi Wisata Kuliner Malam di Cianjur

Orang Aceh kerap menggunakan biji ganja dalam masakannya, karena pada zaman dahulu tidak ada penyedap rasa terbaik menurut mereka.

Tradisi menggunakan biji ganja ke dalam masakan pun dianggap merupakan warisan turun temurun.
Umumnya masakan Aceh khas dengan bumbu rempah-rempah. Sebab, di Aceh banyak warga campuran. Hal itu juga untuk menyempurnakan cita rasa masakan, maka dicampur dengan biji ganja.

Masakan seperti kari ayam atau daging, gulai dan sambal diakui akan lebih nikmat jika menggunakan biji ganja. Sebelum dicampur ke dalam masakan, biji ganja dibuat halus seperti bumbu lainnya.

Kadarnya pun, kata dia harus disesuaikan dengan berapa banyak masakan yang bakal dimasak. Misalnya, masak satu ekor bebek dibuat kari atau gulai minimal menggunakan kurang seperempat ons biji ganja yang sudah dihaluskan. Efek setelah makan masakan yang menggunakan biji ganja, nafsu makan akan bertambah.

Dia menceritakan, bahwa orang-orang Aceh terdahulu tidak mengetahui jika daun ganja bisa dihisap seperti rokok. Mereka hanya mengetahui ganja adalah sebagai penyedap masakan.

Tak hanya pada makanan, sebut dia, di dalam campuran kopi juga dulu dicampur biji ganja. Menurutnya, campuran itu bisa membuat aroma kopi lebih terasa dan segar.

Kini penggunaan biji ganja dalam kopi sulit ditemui. Kemudian, tanaman ganja yang dulu tumbuh subur di pekarangan rumah warga sekitar tahun 1970-an, kini nyaris tak pernah terlihat lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *