Rara Mombasa

Presiden Irpin
ilustrasi disway.(net)
0 Komentar

Kita tunggu berita pagi ini: apakah pesawat dari Mombasa sudah bisa terbang ke Argentina. Lalu bisa mendarat di Bandara San Miguel du Tucuman. Inilah kota terbesar nomor lima di Argentina.

Dari San Miguel du Tucuman barang-barang itu masih harus diangkut dengan truk sejauh 2 jam: ke sirkuit Tarmas Rio Hondo. Para pembalap sudah menunggu: apakah latihan dulu atau langsung kualifikasi.

Seperti juga Mandalika, sirkuit ini amat jauh –untuk menghormati Amat, saya menghindari kata sangat –dari ibu kota Argentina: Buenos Aires. Kalau naik mobil bisa dua harmal –jalan tolnya antara Buenos Aires ke sirkuit ini hanya di beberapa ruas.

Baca Juga:BRI Apresiasi Nasabah Hadirkan BRI Client Summit 2022Xpora jadi Role Model Berdayakan UMKM Orientasi Ekspor

Sirkuit ini justru lebih dekat ke perbatasan Peru –hanya sepelemparan batu. Letaknya di lereng timur pegunungan Andes. Sedangkan Peru di sisi baratnya.

Mengapa dibangun di situ ya karena pariwisata: Tarmas Rio Hondo adalah sumber air panas yang sangat besar dan mencakup area yang luas. Ribuan hotel ada di kota nun jauh ini: ketinggiannya hanya 450 meter, tapi air panasnya bisa dipercaya menyembuhkan banyak penyakit.

Karena balapan di Tarmas Rio Hondo terjadi setelah Mandalika, mau tidak mau orang membandingkannya. Tarmas artinya panas. Rio Hondo berarti air dalam. Mandalika adalah nama ratu di kerajaan Lombok era 1260-an –yang berarti sezaman dengan Majapahit.

Kesamaannya: pembalap juga mengeluhkan kualitas permukaan sirkuitnya. “Tidak sebanyak di Mandalika tapi masih belum bersih. Sulit untuk kecepatan tinggi dan menyalip,” ujar seorang pembalap di situs berita Eropa kemarin.

Argentina juga pernah bertahun-tahun menunggu kembalinya MotoGP ke sana. Baru dibangun tahun 2012, Rio Hondo sering on-off. Untuk perbaikan. Perbaikan terakhir dilakukan tahun 2019 dan baru jadi sekarang ini.

Seperti juga kesulitan apa pun, kambing hitamnya sudah tersedia: Perang di Ukraina. Menurut keterangan resmi MotoGP, akibat perang itu angkutan udara ikut terganggu.

Pilihannya tidak sebanyak dulu lagi: menurun sampai 20 persen. Maksudnya: tidak mudah mencari pengganti pesawat yang rusak.

Baca Juga:Sukses Terselenggara di Situasi yang Menantang, BRI Liga 1 Jadi Pembuktian Indonesia ke Kancah InternasionalAtalia: Keterbatasan Bukan Penghalang untuk Berkarya

Itu karena banyak perusahaan kargo udara berbendera Rusia. Mereka kena sanksi: tidak boleh terbang. Meski agak sulit menerima alasan itu saya harus menerimanya: saya tidak punya cukup pengetahuan bidang itu.

0 Komentar