oleh

Aneh! Pemkab Cianjur tak Tahu Bangunan SMAN 2 Masuk Cagar Budaya

Cianjurekspres.net – Tim Ahli Cagar Budaya Provinsi Jawa Barat, Lutfi Yondri menilai Pemerintah Kabupaten Cianjur salah besar jika eks gedung SMAN 2 (Smanda) Cianjur dibongkar dengan alasan terlambat mengetahui bangunan tersebut masuk cagar budaya. Bahkan dirinya juga mempertanyakan tim ahli mana yang dilibatkan.

Lutfi mengatakan, status gedung lama SMAN 2 Cianjur ditetapkan dalam Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor Barat Nomor 432/Kep.156-Disperbud/2018 tentang penetapan Kawasan Kota Lama Cianjur sebagai Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya Daerah Provinsi Jawa Barat.

“Pemda tidak boleh tidak tahu itu cagar budaya. Aturannya sudah jelas, itu aturan negara yang harus menjadi acuan. Bukan harus provinsi memberitahu, dengan tahu sejarah bangunan saja, dia (Pemkab,red) harusnya tahu itu cagar budaya,” ujar dia kepada Cianjur Ekspres, kemarin (27/10/2021).

Ia mengaku heran jika Pemkab beralasan tidak diberitahu sejak awal bangunan eks SMAN 2 Cianjur merupakan cagar budaya. Menurutnya, Pemkab seharusnya sejak awal sudah mengetahui karena sebelum ditetapkan sebagai cagar budaya melalui surat keputusan, dilakukan terlebih dulu peninjauan dan pengajuan.

“Waktu itu kita tinjau dengan Sekda kok. Justru mereka (Pemkab Cianjur, red) yang harus pro aktif menanyakan. Sangat aneh (alasan) itu,” ucap Lutfi.

Lutfi menduga jika Pemkab Cianjur tidak membaca undang-undang tentang cagar budaya jika melakukan pembongkaran dan pembangunan dengan alasan tidak tahu dan tak melibatkan tim ahli cagar budaya.

“Buat apa Undang-undang cagar budaya dibuat. Mereka (Pemkab, red) gak baca undang-undang.,” kata dia,

Lutfi juga mempertanyakan terkait klaim Pemkab yang mengaku sudah melibatkan tim ahli dari balai cagar budaya. Pasalnya sejauh ini Pemkab Cianjur tidak pernah melibatkan tim ahli dari BPCB Banten maupun pihak Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam pembongkaran serta pembangunan tersebut.

“Tim ahli mana yang dilibatin, gak ada tim ahli yang dilibatkan,” ucapnya.

Dia meminta Pemerintah Kabupaten Cianjur untuk menunjukkan surat bukti hasil kajian gedung eks SMAN 2 Cianjur jika memang benar Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten telah dilibatkan dalam pembangunan kembali bangunan cagar budaya tersebut.

“Kalau mereka (Pemkab Cianjur, red) berdalih, tinggal minta tunjukkan saja mana hasil studi kelayakan untuk rehab serta hasil naskah studi teknisnya. Kalau sudah izin, berarti naskah yang dimaksud tadi pasti sudah lengkap,” ungkap Lutfi.

Baca Juga:Bisa-bisanya Pemkab Cianjur Merusak Cagar Budaya Jabar! 

Sebelumnya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Cianjur, Eri Rihardiar, mengaku jika pihaknya sudah berkomunikasi dengan BPCB Banten untuk terlibat dalam pembangunan kembali gedung SMAN 2 Cianjur. Namun hingga kini mereka belum bisa menunjukan bukti surat tersebut.

Bahkan Eri menjamin, jika pembangunan SMAN 2 Cianjur tidak akan berubah dan akan tetap sama seperti semula.

“Sudah komunikasi. Untuk bangunan bentuknya tidak berubah, bahkan mendekati bangunan lama. Bentuk bahan dan keaslian itu mendekati,” katanya.

Baca Juga: Cagar Budaya Dibongkar, Ini Kata DPRD Cianjur

Sementara itu sebelumnya, Bupati Cianjur, Herman Suherman, mengatakan, bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten tidak memberitahu jika bangunan SMAN 2 Cianjur berstatus cagar budaya.

“Kenapa setelah dibongkar baru memberitahu ke saya, ke Pemda. Kita tidak tahu itu cagar budaya, makanya kita bangun kembali. Harusnya ngasih tahu dari awal, pas sudah dibongkar baru ngasih tahu,” ujar Herman saat di wawancara melalui telepon, Selasa (26/10/2021).

Namun setelah mengetahui bangunan SMAN 2 Cianjur berstatus cagar budaya, Herman menegaskan Pemkab langsung mengalokasikan anggaran untuk membangun kembali bangunan tersebut.

“Udahlah kita mengalah dan tahun ini kita menganggarkan. Sekarang baru lah dibangun lagi oleh PUPR,” ucapnya.

Herman pun memastikan dalam pelaksanaan pembangunan kembali bangunan SMAN 2 Cianjur melibatkan pihak BPCB Banten.

“Pasti PUPR melibatkan, karena semua untuk teknis kita serahkan ke PUPR,” ungkapnya.

Dirinya menegaskan, harusnya pihak provinsi maupun BPCB Banten berinisiatif datang sendiri untuk andil dalam pembangunan tersebut tanpa harus diberi tahu oleh Pemkab Cianjur.

“Tapi harusnya datang sendiri dong, karena dari awal juga yang tidak memberi tahu kan provinsi,” ucap Herman.

Herman pun kembali mengatakan, dirinya sebagai kepala daerah tidak mungkin membongkar bangunan SMAN 2 Cianjur jika mengetahui masuk ke dalam cagar budaya.

“Saya Pemerintah Daerah, kalau tahu itu cagar budaya pasti saya tidak akan membongkar. Pasti saya mumule,” katanya.

Baca Juga: Proyek CSR Rugikan Warga

Terpisah, Penggiat Seni dan Alam, Eko Wiwid menaggapi hal ini, mengatakan, bangsa Indonesia memiliki sejarah yang panjang dari masa ke masa dan mempunyai banyak peninggalan seperti struktur bangunan, manuskrip, artefak serta benda-benda peninggalan bersejarah lainnya.

“Sebuah bangsa yang telah melalui perjalanan sejarah panjang, tentu mempunyai banyak peninggalan bernilai secara sejarah seperti struktur bangunan, manuskrip, artefak dan benda-benda peninggalan lainnya,” kata Eko Wiwid, kemarin (27/10).

Eko mengatakan, di seluruh hamparan tanah air Indonesia yang begitu luas ini, tentu banyak ditemukan fakta peninggalan sejarah disetiap daerahnya tak terkecuali di Cianjur.

“Cianjur sejak didirikan hingga saat ini, salah satu daerah di Jawa Barat yang mempunyai umur cukup tua, tentu akan kaya dengan catatan atau cerita sejarah termasuk peninggalan sejarah berbenda seperti bangunan yang dibuat oleh para pendahulu atau leluhur Cianjur,” jelasnya.

Eko Wiwid berharap, agar seluruh masyarakat Cianjur termasuk para pemangku kebijakan tidak lupa dengan masa silamnya Cianjur, baik sejarah kejayaan leluhur maupun mengingat sejarah kelam di Cianjur. Dirinya menegaskan, Pemkab Cianjur harus lebih jeli dalam membuat keputusan perencanaan pembangunan.

“Jangan sampai asal terlihat megah kekinian tapi malah menghapus nilai-nilai sejarah sebagai aset berharga bangsa,” ujarnya.

Menurutnya, bangunan-bangunan yang bernilai sejarah adalah aset negara yang berharga dan menjadi Identitas Kebudayaan. Wiwid mengingatkan, Pemkab Cianjur jangan takut untuk mempertahankan dan melestarikan bangunan bernilai sejarah, karena peninggalan sejarah adalah investasi yang tidak akan rugi malah akan memberikan nilai tambah bagi Pemkab Cianjur.

“Kita sadar bahwa kita juga penting untuk terus berinovasi, menyesuaikan perkembangan jaman agar Cianjur lebih maju lagi. Namun bukan arti harus menghilangkan yang mempunyai nilai-nilai sejarah,” tandanya.

Wiwid menyakini di Cianjur banyak potensi nilai sejarah , jika saja Pemkab Cianjur berani memperbanyak riset sejarah dengan detail dan melibatkan penggiat sejarah, pencinta sejarah, penggiat heritage lintas disiplin ilmu pengetahuan, maka Cianjur akan mempunyai investasi pengetahuan untuk masa depan generasi bangsa dalam bidang ilmu pengetahuan sejarah dan akan dilirik oleh para ilmuwan manca negara.

(mg1/yis/hyt/nik)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *