oleh

Lapas Tangerang Sejak Dibangun pada 1972, Tak Pernah Ada Perbaikan Instalasi Listrik

Cianjurekspres.net – Malam, sekitar pukul 21.00, telepon Upi Hartati berbunyi. Dari anaknya, Rezki Khairi, yang tengah dipenjara di Lapas Kelas I Tangerang, Banten.

”Ibu, minta pulsa dong. Besok uang jajan potong dah,” ungkap Upi dilansir dari Jawa Pos di tengah isak tangis menirukan permintaan anaknya yang harus mendekam di lapas karena terlibat kasus narkoba.

Upi tak kaget dengan telepon pada Selasa malam (7/9/2021) itu. Sejak dipindahkan ke sana dari Lapas Pemuda Kelas II-A Tangerang, setiap malam anaknya yang berusia 23 tahun tersebut melakukan panggilan video dengannya.

Yang ‘membogem’ perempuan 44 tahun itu dengan sangat keras justru telepon pada keesokan paginya (8/9). Yang diterima Nursin, sang suami: Rezki dipastikan menjadi korban tewas ke-41 kebakaran lapas yang berdiri sejak 1972 tersebut. ”Walaupun ikhlas, tetap kerasa berat,” kata Nursin yang kemarin mendampingi sang istri di ruang crisis center Lapas Kelas I Tangerang.

Api melalap Blok Chandiri Nengga 2, tempat sel Rezki berada. Sebanyak 41 narapidana (napi) tewas terbakar dan 81 orang lainnya terluka ringan. Mereka kehilangan nyawa karena terjebak dalam ruang tahanan yang terkunci. “Karena api cepat membesar, beberapa kamar tidak sempat dibuka,” jelas Menteri Hukum dan HAM (Menkum HAM) Yasonna Laoly dalam jumpa pers kemarin.

Baca Juga: Kebakaran Lapas Tangerang 44 Orang Meninggal Dunia

Dugaan sementara, kebakaran disebabkan korsleting listrik. Yasonna menyebut, sejak Lapas Kelas I Tangerang kali pertama dibangun, tidak pernah ada perbaikan instalasi listrik. Padahal, kapasitas daya terus ditingkatkan. ”Sekarang Puslabfor Polri dan Ditreskrimum Polda Metro Jaya meneliti sebab musabab kebakaran tersebut,” ujarnya.

Kemenkum HAM pun telah membentuk lima tim. Setiap tim mengurusi identifikasi korban, pemulasaraan dan pemakaman jenazah, pemulihan keluarga, koordinasi dengan seluruh stakeholder, serta humas.

Terdapat dua warga negara asing yang menjadi korban tewas. Satu warga negara (WN) Portugal dan satunya lagi WN Afrika Selatan. Yasonna telah bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri, duta besar, dan konsuler dari negara para WNA yang meninggal. Dia juga memerinci, dari 41 korban tewas, satu orang merupakan narapidana (napi) kasus pembunuhan, satu napi terorisme, dan lainnya napi kasus narkoba.

Baca Juga: Damkar Cianjur Waspadai Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan saat Kemarau

Senada dengan Yasona, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Imran yang kemarin mendatangi TKP (tempat kejadian perkara) membenarkan bahwa diduga pemicu kebakaran tersebut adalah hubungan arus pendek listrik. ”Tapi, kami belum bisa mengungkapkan lebih jelas. Sebab, pendalaman masih dilakukan tim identifikasi Mabes Polri untuk mengetahui kejadiannya seperti apa,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres setelah mengecek Lapas Kelas I Tangerang kemarin.

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombespol Tubagus Ade Hidayat menyatakan bahwa pihaknya telah mengamankan beberapa kabel, alat kelistrikan, dan saluran instalasi. ”Dari olah TKP disimpulkan bahwa titik api hanyalah satu, bersumber dari satu titik. Kemudian, titik api mengenai atap di balik plafon. Plafonnya terbuat dari tripleks yang mudah terbakar,” jelasnya.

Terkait dengan dugaan tindak pidana, Tubagus menyampaikan bahwa pihaknya telah memeriksa 20 saksi yang terdiri atas petugas piket malam, petugas di sekitar lokasi, dan penghuni blok.

Baca Juga: Musim Kemarau, Plt Bupati Cianjur Ingatkan Warga Hati-hati Bencana Kebakaran

Terpisah, Karopenmas Divhumas Polri Irjen Rusdi Hartono menjelaskan bahwa tim disaster victim identification (DVI) tengah mengidentifiksi jenazah. ”Karena itu, diperlukan data antemortem dari keluarga para korban,” tuturnya.

Dibukalah pos antemortem agar keluarga dengan mudah memberikan data yang diperlukan. Misalnya, sidik jari, struktur gigi, DNA, atau lainnya. ”Kami mohon keluarga segera ke pos antemortem di rumah sakit,” katanya.

Namun, Nursin berkeberatan dengan permintaan itu. Dia meminta keluarga korban tidak disibukkan dengan berbagai masalah administratif. Mengingat, mereka tengah berduka. ”Jangan kami disuruh ke rumah sakit ini-itu, (seharusnya) kami terima duduk manis di rumah, anak bapak kami anterin, biaya kami tanggung,” ucapnya.(jwp/nik)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *