oleh

Sembilan Warga Meninggal Akibat DBD, Tahun Ini Tercatat 224 Warga yang Terjangkit

SEMBILAN orang warga Cianjur meninggal dunia akibat serangan Demam Berdarah Dengue (DBD). Jumlah warga yang meninggal dunia akibat DBD tersebut terjadi sepanjang tahun 2020 dan 2021. Pada tahun 2020 tujuh orang meninggal dan tahun 2021 sebanyak dua orang yang meninggal dunia.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes), dr Yusman Faisal mengatakan, berdasarkan data dalam kurun waktu Januari-November 2021 terdapat 224 orang terkena DBD. Dari jumlah tersebut dua orang meninggal dunia.

“Di tahun 2020, kasus DBD cukup tinggi. 700 kasus terjadi dan tujuh orang dinyatakan meninggal dunia,” kata dia kepada wartawan, Jumat (12/11) lalu.

Yusman mengungkapkan, Dinkes Kabupaten Cianjur tak henti-hentinya memberikan imbauan kepada masyarakat agar memperhatikan kebersihan lingkungan atau pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

“Penanganan pertama yang dilakukan yakni melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Selain itu, jika peralihan musim seperti saat ini, biasanya memang selalu ada peningkatan. Tapi bisa diwaspadai atau dicegah,” kata Yusman.

Selain PSN, lanjut dia, PHBS di lingkungan sekitar pun sangat diperlukan. Masyarakat diimbau agar rajin menjaga kebersihan. Selalu memeriksa tempat penampungan air seperti bak mandi agar tidak jadi tempat bersarangnya nyamuk.

“Masyarakat pun membiasakan membuang barang-barang yang bisa mengakibatkan genangan air dan ditempati oleh nyamuk untuk bersarang. Perlu diperhatikan juga ya, seperti kondisi lingkungan sekitar. Jangan sampai menjadi tempat bersarangnya nyamuk. Rata-rata, kasus DBD dan Cikungunya itu terjadi di daerah dengan kepadatan penduduk yang tinggi,” tuturnya.

Yusman juga mengungkapkan, kecamatan yang paling banyak dan sering terjadi kasus DBD dan Cikungunya yakni Kecamatan Cianjur, Cilaku dan Karangtengah.

“Tiga kecamatan tersebut tercatat sering terjadi kasus cukup tinggi. Wilayah yang paling banyak kasusnya Cianjur, Cilaku dan Karangtengah. Bisa dikarenakan kepadatan penduduk ataupun juga karena PHBS-nya yang kurang diperhatikan,” tutupnya. (dik//mg1/sri)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *