oleh

Rumah Idea, KNPI dan Alumni HMI di Cianjur Selenggarakan Bedah Buku

Cianjurekspres.net – Kelompok diskusi Rumah Idea menyelenggarakan bedah buku “Pembaharuan Pemikiran Pendidikan Paulo Freire” di Ghiyas Coffee Shop Cianjur, Selasa (20/4) lalu.

Kegiatan ini menghadirkan langsung penulis bukunya yakni Mi’raj Dodi Kurniawan dan Hilman Wahyudi selaku pegiat kajian filsafat dan kebudayaan. Prosesi bedah buku itu sendiri dimoderatori oleh M. Fajar Firdaus, Sekretaris DPD KNPI Cianjur.

Di awal kegiatan, Hilman Wahyudi, sebagai pembedah buku, memberi gambaran singkat perkembangan pendidikan di dunia ketiga pada kurun waktu tahun 60-70an. Hal ini kemudian dikaitkan dengan pembaharuan pemikiran ala Paulo Freire.

Sehingga ditemukan sebab-sebab lahirnya pemikiran pendidikan kritis ala Freire. Setelah itu, Hilman mulai masuk ke pemaparan tentang dasar-dasar filosofis yang menjadi rujukan Freire dalam membangun konsep pendidikan kritisnya.

Dalam kesempatan berikutnya, Hilman memaparkan konsep-konsep utama pendidikan kritis ala Freire seperti metode melek huruf, andragogi yang menolak pendidikan gaya bank, demokrasi di sekolah, sampai pada konsep pendidikan hadap masalah. Setelah itu ia merelasikan konsep pendidikan kritis ala Freire dengan kemungkinan penerapannya di Indonesia.

Selanjutnya Mi’raj Dodi Kurniawan, selaku penulis buku tentang pemikiran pendidikan Paulo Freire itu, menjelaskan tentang jenis-jenis kesadaran manusia menurut Freire yang berelasi dengan pendidikan.

Menurut Freire, kesadaran manusia itu meliputi tiga jenis. Yaitu, kesadaran naif (naival consciousness) yang melihat bahwasanya aspek manusia sebagai akar penyebab masalah. Lalu kesadaran magis (magic consciousness), berupa kesadaran masyarakat yang tidak mampu melihat adanya kaitan satu faktor dengan faktor yang lain.

Serta yang terakhir, kesadaran kritis (critical consciousness), yaitu kesadaran yang lebih melihat sistem sebagai sumber masalah.Jenis kesadaran kritis inilah yang menurut Freire harus dibangun sistem pendidikan, terutama di dunia ketiga.

Kesadaran kritis itu perlu sekali untuk dibangun melalui pendidikan agar suatu bangsa mampu melakukan refleksi kritis terhadap kondisi sosial dan politik bangsanya.

Refleksi kritis itu perlu dibangun agar suatu bangsa mampu menghadapi sistem sosial politik yang tidak adil, kemudian mampu melahirkan rekayasa dan transformasi sosial menuju tatanan masyarakat yang berkeadilan.

Diskusi yang digelar Rumah Idea bersama DPD KNPI Cianjur dan Demagogs (Komunitas alumni HMI inklusif dan progressif) itu merupakan kelanjutan diskusi kecil yang dilakukan intensif setiap malam bersama beragam pihak pecinta kopi di Cianjur.

Ke depannya acara bedah buku itu akan terus berlanjut dengan menghadirkan para intelektual baik dari Cianjur maupun luar Cianjur. Dari kegiatan-kegiatan itu, diharapkan ke depannya lahir para intelektual Cianjur yang termasyhur baik di tingkat regional maupun nasional.(rls/hyt)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *