oleh

Dedi Mulyadi: Terbelahnya ASN Harus Diantisipasi

CIANJUR – Aparatur Sipil Negara (ASN) Kabupaten Cianjur dipastikan terbelah, seiring langkah Plt Bupati Herman Suherman dan Plt Kadisdik Oting Zaenal Mutaqin mencalonkan di Pilkada 2020 mendatang.

Keduanya sama-sama sudah mendaftar ke partai politik sebagai bakal calon Bupati Cianjur. Herman selaku petahana mendaftar ke PDI Perjuangan dan Oting ke Partai Gerindra.

Pakar Hukum Tata Negara Universitas Suryakancana, Dedi Mulyadi mengatakan kedua figur incumbent diatas mempunyai kans cukup besar. Karena sebagai ‘petahana’ memiliki kelebihan dibanding bakal calon lain, yaitu berupa kebijakan.

“Kebijakan pemerintah yang sudah mereka siapkan tahun-tahun sebelumnya dilaksanakan sebagaimana mestinya. Berbagai aktifitas termasuk juga bagian dari sosialisasi. Ini kelebihan incumbent dibandingkan para bakal calon lain,” katanya kepada cianjurekspres.net, Rabu (20/11/2019).

Namun menurutnya, ada konsekuensi yang harus diantisipasi dibalik majunya Herman dan Oting. Yakni terbelahnya dukungan ASN walaupun memang tidak boleh berpolitik, tetapi faktanya berbicara lain.

Baca Juga: Kemana Suara ASN akan Berlabuh?

Baca Juga: Oting Blak-blakkan Soal Nyalon Bupati Cianjur

“Begitu terjadi konstelasi, kemudian keterbelahan ASN akan menjadi masalah. Misalkan contohnya, kalau Pak Oting akan memanfaatkan betul gerbong guru dengan berbagai kebijakan yang dilakukan sebagai kepala dinas. Jika menengok kebelakang, cukup efektif dukungan dari para guru,” tandas Dedi.

Terbukti saat Mantan Bupati Cianjur dua periode Tjetjep Muchtar Soleh dan Dadang Sufianto memenangi Pilkada 2006 lalu. Dimana Dadang gerbong Dadang kebanyakan diisi oleh para guru dan ini akan dimainkan betul oleh Oting di Pilkada 2020.

Disisi lain, Herman akan memanfaatkan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Terlebih posisinya sebagai Plt Bupati incumbent yang akan berkontestasi di Pilkada 2020. “Sehingga agak sulit untuk memisahkan mana Plt Bupati dan bakal calon, karena memang itu kelebihan sisi incumbent,” jelas Dedi.

Dedi menegaskan, konsekuensi keterbelahan ASN harus diantisipasi, jangan sampai proses pelayanan kepada publik menjadi tidak maksimal.

“Saya kira Oting dan Plt Bupati sudah menyadari ini. Mudah-mudahan sudah memberikan arahan jelas kepada stafnya bahwa Pilkada 2020 tidak menurunkan kualitas pelayanan di masyarakat,” katanya.

Selain terbelahnya dukungan ASN, dukungan partai atau gabungan partai kepada Herman dan Oting juga akan terpecah karena memiliki basis massa yang berbeda.

Gerindra sebagai partai tempat Oting mendaftar bakal calon bupati, memiliki basis massa di Cianjur Utara dan Cianjur Tengah. Terlebih basis riil Gerindra kebanyakan Prabowo Effect di Pilpres 2019 lalu.

“Kalau petahana saya kira jelas partainya, selain Gerindra misalkan Golkar sebagai partai ideologis yang memiliki basis riil di Cianjur Utara dan Selatan. Kalau PKS lebih kepada dukungan rasional, basisnya Cianjur Kota,” ungkap Dedi.

Hanya saja, Dedi melihat pemetaan politik baru akan menarik ketika bakal calon sudah mendapatkan rekomendasi dari partai. Begitu juga dengan terjadinya pembelahan masyarakat.

“Kalau sekarang masih mencari. Kita melihat cukup banyak bakal calon yang akan manggung di Cianjur dan ini positif bagi perkembangan demokrasi lokal di Cianjur,” terangnya.

Hanya saja sisi positif bagi masyarakat sekarang tidak akan membeli kucing dalam karung di Pilkada 2020 mendatang. Pasalnya publik dapat melihat dengan jelas rekam jejak Oting, keluarga dan bisnis.

“Termasuk Plt Bupati, bagaimana keluarganya dan selama dia menjabat sebagai bagian dari rekam jejak yang kemudian harus dicari tahu masyarakat untuk menentukan pilihan pada saat mencoblos,” pungkasnya.(hyt)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *