VRI Bangun Delapan Jembatan Gantung di Cianjur

VRI Bangun Delapan Jembatan Gantung di Cianjur
BERBINCANG: Seorang petugas dari Vertical Rescue Indonesia (VRI) saat berbincang-bincang dengan siswa SD diatas jembatan gantung Cibanteng Batu Wates Sukaresmi - Cibeet Bogor. (FOTO: AYI SOPIANDI/CIANJUR EKSPRES)
0 Komentar

CIANJUR – Melalui program “Ekspedisi 1000 Jembatan Gantung Untuk Indonesia”, Vertical Rescue Indonesia (VRI) membangun jembatan perintis di daerah pasca bencana atau membuka akses daerah terpencil.
Seperti di Kabupaten Cianjur, Tim Vertical Rescue Indonesia sudah berhasil membangun 8 Jembatan Gantung diantaranya Cidamar 1 Mekarsari Kecamatan Naringgul, Cidamar 2 Mekarsari Naringgul, Cilaki Cianjur Cidaun – Cisewu Garut, Citali Mekarsari Naringgul Cianjur, Cikaso. Mekarsari Naringgul Cianjur, Citali 2 Randuriung Mekarsari Naringgul Cianjur, Cidamar 3 Naringgul Cianjur, dan Cibanteng Batu Wates Sukaresmi – Cibeet Bogor.
Komandan Vertical Rescue Indonesia Tedi Ixdiana, mengatakan, banyak manfaat yang dirasakan masyarakat dengan adanya jembatan penyebrangan tersebut. Seperti untuk sarana pendidikan dan juga dapat meningkatkan taraf perekonomian masyarakat sekitar.
“Contoh, Jembatan Gantung yang baru selesai di Kampung Batuwates Desa Cibanteng, Kecamatan Sukaresmi. Tadinya anak-anak sekolah dari kampung sebelah harus melintasi sungai dengan mempertaruhkan nyawa untuk bisa menyeberangi sungai, namun dengan adanya Jembatan Gantung ini tak lagi harus bersusah payah untuk tiba ke sekolah. Begitu juga masyarakat, tentunya akan mempermudah akses bagi warga sekitar,” kata Tedi Ixdiana, Senin (18/11).
Tedi mengatakan, hingga saat ini, Vertical Rescue Indonesia, sudah membangun 85 Jembatan Gantung diseluruh tanah air.
“Mulai dari Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah,Papua dan termasuk di perbatasan Indonesia- Malaysia di Kalimantan Barat,” katanya.
Menurutnya, jembatan yang dibangun Vertical Rescue Indonesia tidak menggunakan beton. Pembuatannya pun singkat mulai dari 1 hingga 5 hari.
“Meskipun demikian, keamanan dan kekuatan jembatan tentu sudah diperhitungkan matang. Nuansa sarat gotong-royong juga mewarnai mulai dari pengumpulan material hingga pembuatannya,” terang Tedi.
Dikatakan Tedy Ixdiana, awal mula tercetusnya Vertival Rescue Indonesia ketika dirinya hobi memanjat tebing. Dengan banyaknya bencana alam yang terjadi di Indonesia dirinya tergerak untuk menggagas komunitas membantu evakuasi atau penyelamatan di medan terjal.
“Jadi, tepatnya pada tahun 2000, berdirilah Vertical Rescue Indonesia. Hingga saat ini sudah ada 18 ribu relawan Vertical Rescue Indonesia, sehingga jika terjadi bencana di daerah manapun bisa membantu untuk mengevakuasi tanpa perlu mengandalkan dan menunggu bantuan,” katanya. (yis/sri)

0 Komentar