oleh

Gunung Padang Dikhawatirkan Rusak

 

CIANJUR, cianjurekspres.net – Pemerintah Kabupaten Cianjur diminta untuk segera menata zona pengembang situs Megalitikum Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka. Hal itu dilakukan untuk memecah fokus wisata ketika terjadi lonjakan pengunjung, terutama saat libur panjang.

Juru Pelihara Situs Gunung Padang, Nanang Sukmana, mengatakan, pada momentum libur panjang, jumlah pengunjung bisa meningkat hingga beberapa kali lipat dibandingkan biasanya. Jika di hari biasa pengunjung hanya sebanyak 250 hingga 300 orang, namun pada momentum libur panjang jumlahnya bisa mencapai 2.000 orang dalam sehari.

“Seperti dalam momentum libur panjang Idul Fitri ini, pada Sabtu dan Minggu kemarin sampai 2.000 orang. Didominasi wisatawan asal Cianjur dan kota sekitar, seperti Bandung, Sukabumi. Termasuk ada juga wisatawan asing,” kata dia saat dihubungi melalui telepon seluler, Senin (18/6).

Menurutnya, untuk saat ini para juru pelihara dan kompepar hanya bisa membatasi lama pengunjung di puncak situs. Pasalnya, jika membatasi jumlah pengunjung yang hendak naik ke situs, maka akan terjadi penumpukan di area bawah atau parkiran situs.

“Jadi kalau ada pengunjung yang sudah berada di puncak situs, diarahkan untuk kembali turun. Supaya tidak menumpuk di puncak. Petugas memang mesti kerja ekstra, ditambah untuk mengingatkan para pengunjung agar tidak menginjak atau duduk di atas batu di bagian tertentu supaya tidak rusak atau patah,” tuturnya.

Maka dari itu, lanjut dia, pihaknya nmengharapkan pemerintah Kabupaten Cianjur segera merealisasikan rencana penataan zona pengembang situs Gunung Padang. Wisata alternatif yang tak jauh dari kawasan situs bakal mengurangi penumpukan wisatawan di satu titik, yakni di situs.

Hal itu, menurut Nanang, bakal membuat situs tetap terjaga dalam waktu lama. Pasalnya jika terlalu banyak wisatawan di puncak situs, kemungkinan pergeseran tanah dan kerusakan semakin besar.

“Yang kami harpakan segera penataan di kawasan pengembang, minimalnya 2 kilometer dari situs. Jadi ketika di situs penuh, ada alternatif. Misalnya dibuatkan wisata berkemah, outbond, atau lainnya,” pungkasnya. (bay/yhi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *