Pasutri Cacat, Tinggal di Gubuk Gelap

Pasutri Cacat, Tinggal di Gubuk Gelap
MISKIN: Suminar (kiri), dan Abah Engkan, pasutri cacat yang tinggal di gubuk milik tokoh warga setempat di tengah kebun dan tanpa listrik. (ISTIMEWA)
0 Komentar

CIANJUR, cianjurekspres.net – Miris, melihat di Kabupaten Cianjur masih ada warga yang hidup di bawah garis kemiskinan denga kondisi yang memprihatikan. Bagaimana tidak, Abah Engkan, 71, dan istrinya Suminar, 44, ini hidup dengan kondisi fisik yang cacat dan tinggal di gubuk tengah perkebunan milik salah seorang tokoh di wilayahnya. Parahnya lagi, tak satupun bantuan pemerintah yang pernah diterima keluarga tersebut.
Abah Engkan memang kini tidak memiliki fisik yang sempurna lagi. Tangan kanannya diamputasi lantaran dulunya kesetrum listrik. Sementara itu, Suminar kini tak bisa melihat, penyakit katarak yang diderita sejak belasan tahun lalu membuat fungsi matanya tersebut tidak lagi ada.
“Begini kondisi keluarga saya, tangan saya diamputasi karena kesetrum listrik. Istri saya pun sudah tidak bisa lagi melihat,” kata Engkan kepada wartawan, kemarin (10/6).
Warga kampung Lembur Tengah RT 05/ RW 02 Desa Cinerang Kecamatan Naringgul itu pun tinggal saung kebun berukuran 2 x 3 meter yang lebih mirip kandang kambing. Gubuk itupun bukan miliknya, melainkan milik salah seorang tokoh yang tak tega melihat keluarga tersebut tak punya tempat tinggal.
Gubuk tersebut jauh dari pemukiman penduduk, dan tidak memiliki aliran listri. Pasalnya dari tetangga terdekat,jaraknya sampai 300 meter, sehingga sulit untuk dirinya mendapatkan aliran listrik ke gubuknya.
“Kalau malam ya gelap, kan di tengah kebun, jauh dari tetangga. Tapi daripada tidak ada, lebih baik di sini,” kata dia.
Engkan mengaku, dirinya sempat memiliki rumah dan tanah, namun semua itu habis oleh biaya berobat istrinya da kebutuhan sehari-hari bagi dia, sang istri, dan anaknya. Kini ia hanya mengandalkan penghasilan dari buruh serabutan, mulai dari mencari rumput untuk pakan ternak, memetik cengkeh, dan lainnya.
Untuk memotong rumput, dia terkadang menggunakan tangan kirinya atau menyambungkan celurit ke tangan kannya dengan penyangga kayu. Sebab tak ada tangan palsu yang mampu dia beli untuk mempermudah pekerjaannya.
Penghasilannya tentu tak bayak dari upah buruh serabutan tersebut. Dia mengaku terkadang hanya mendapatkan uang Rp 10 ribu atau Rp 20 ribu per hari. Bahkan tidak dapat uang sama seklai jika tak ada tetangga yang memintanya melakukan pekerjaan tersebut.

0 Komentar