CIANJUR,CIANJUR.JABAREKSPRES.COM – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Cianjur terus meningkatkan program keagamaan bagi warga binaan, khususnya selama bulan Ramadan.
Menurut informasi yang dihimpun Cianjur Ekspres, program ini merupakan bagian dari pembinaan kepribadian agar warga binaan dapat kembali diterima di masyarakat setelah bebas.
Kepala Lapas Kelas IIB Cianjur, Eris Ramdani, mengatakan, kegiatan keagamaan di lapas sebenarnya sudah berjalan setiap hari, namun intensitasnya meningkat selama Ramadan.
Baca Juga:Paeruzillah Terpilih Sebagai Ketua Cabor Rugby Secara AklamasiPenghapuskan Denda dan Tunggakan Pokok Pajak Kendaraan Bermotor di Cianjur Mulai Kamis, 20 Maret 2025
“Memang dari awal hingga akhir Ramadan, kami meningkatkan kegiatan keagamaan, khususnya bagi warga binaan Muslim. Meski kegiatan ini sudah ada sebelumnya, selama Ramadan ditingkatkan, terutama setelah tarawih juga ada tadarus. Pesantren At-Taubah yang sudah berjalan selama 13 tahun ini menjadi bagian dari pembinaan. Prinsip kami adalah masuk napi, keluar jadi santri,” ujar Eris, pada Selasa 25 Maret 2025.
Dia menambahkan, program pesantren ini telah membuahkan hasil nyata. Banyak mantan warga binaan yang setelah bebas menjadi marbot masjid dan pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di lingkungan masing-masing.
“Ya, pesantren ini telah telah menunjukkan hasil positif, banyak mantan warga binaan yang setelah bebas berperan sebagai marbot masjid dan pengurus DKM di lingkungan mereka, hal ini menjadi bukti bahwa pembinaan kepribadian di dalam lapas berjalan dengan baik,” tambahnya.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren At-Taubah Lapas Cianjur, KH. Ahmad Yani, menjelaskan, pesantren ini memiliki berbagai program, mulai dari pembelajaran membaca Al-Qur’an hingga tahfidz.
“Seluruh program pendidikan Islam ada di sini. Warga binaan yang belum bisa membaca Al-Qur’an diajarkan dari dasar, mulai dari Iqro 1 hingga Iqro 6. Setelah itu, mereka bisa lanjut ke program membaca Al-Qur’an, belajar kitab kuning, hingga tahfidz. Ada juga kelas khusus pembinaan akhlak dan aqidah, yang sistem pembelajarannya mirip dengan pesantren pada umumnya,” jelasnya.
Menurut dia, program tahfidz di Lapas Cianjur telah membuahkan hasil yang luar biasa. Beberapa warga binaan bahkan mampu menghafal hingga 20 juz Al-Qur’an. Tak hanya itu, dua mantan warga binaan yang pernah belajar di Pesantren At-Taubah kini telah mendirikan pesantren sendiri di Cianjur.